Peringati Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Keraton Yogyakarta Gelar Berbagai Acara Menarik

By admin February 17, 2020

GKR Hayu-penghageng Tepas Tandha Yekti-selaku ketua Simposium Internasional dan GKR Bendara-wakil penghageng KHP Nityabudaya-sebagai ketua Pameran Keraton Yogyakarta

 

KGPH Mangkubumi resmi dinobatkan sebagai Raja ke-10 Keraton Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X pada hari Selasa Wage, 7 Maret 1989 atau 29 Rajab 1921. Hingga kini, setiap tanggal 7 Maret selalu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Tingalan Jumenengan Dalem. Adapun untuk tahun 2020 ini adalah ulang tahun yang ke-32 dalam hitungan Tahun Jawa dan 31 tahun dalam hitungan Masehi. Oleh karena angka tersebut dapat dibagi ke dalam siklus windu yakni delapan tahunan, maka peringatan Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini masuk dalam kategori Tumbuk Ageng.

 

Berkaitan dengan peringatan tersebut, Keraton Yogyakarta menggelar serangkaian kegiatan baik yang bersifat Hajad Dalem (kegiatan rutin sesuai adat istiadat) maupun yang secara khusus dibuat di tahun ini. Adapun untuk Hajad Dalem yang dilangsungkan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah sebagai berikut:

22 Maret : Hajad Dalem Ngebluk di Bangsal Sekar Kedhaton, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (tertutup untuk publik)

23 Maret : Hajad Dalem Ngapem di Bangsal Sekar Kedhaton, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (tertutup untuk publik)

25 Maret : Hajad Dalem Labuhan Parangkusuma dan Labuhan Dlepih (terbuka untuk publik)

26 Maret : Hajad Dalem Labuhan Merapi dan Labuhan Lawu Dlepih (terbuka untuk publik)

 

Selain kegiatan Hajad Dalem yang telah berlangsung secara ratusan tahun lamanya, Keraton Yogyakarta juga menggelar kegiatan Simposium Internasional dan Pameran Budaya Jawa dalam rangka Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dengan masing-masing perincian sebagai berikut:

 

SIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA

Setelah sukses di tahun 2019 lalu, Keraton Yogyakarta kembali menggelar Simposium Internasional Budaya Jawa pada tahun 2020 ini dengan mengusung tema “Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta”. Kegiatan Simposium Internasional kali ini akan dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Maret 2020 di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Simposium akan dibuka secara langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan dibuka dengan pementasan Beksan Lawung Ringgit, persembahan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. Agenda Simposium Internasional ini akan menghadirkan empat pembicara luar dan dalam negeri dalam empat bidang yang berbeda, yakni sebagai berikut:

 

Bidang Sejarah:
• Sandra Sardjono: Kurator Independen, dan Presiden Tracing Pattern Foundation, USA
Tema: “Gambaran Tekstil di Jawa Kuno (abad ke 8-15)”
• Siti Maziyah: Departemen Sejarah, Universitas Diponegoro, Semarang
Tema: “Dari Motif “Koin” dan “Patola” Menjadi Motif Kawung dan Nitik: Akulturasi Kain
Impor Menjadi Kain Tradisional di Keraton Yogyakarta”

Bidang Filologi:
• Dick Van Der Meij: Penasihat Akademik dan Staf Penghubung dalam proyek DREAMSEA, Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts
Tema: “Naskah Bergambar dari Yogyakarta dan Pakaian dalam Gambar.”
• M. Rendrawan Setiya Nugraha: Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Airlangga, Surabaya
Tema: “Proses Membatik dalam Naskah Bab Sindjang”

Bidang Seni Pertunjukan:
• Jennifer Lindsay: Honorary Associate Profesor di Australia National University
Tema: “Berdandan: Gamelan dan Pakaian Pertunjukan”
• Th. Suharti (Nyi KRT Pujaningsih): KHP Kridhomardowo, Keraton Yogyakarta
Tema: “Busana Bedhaya Keraton Yogyakarta: HB I – HB X”

Bidang Sosial-Budaya:
• Jiri Jakl: Akademisi di Institute of Anthropology, Heidelberg, Jerman
Tema : “Pakaian Kerajaan Jawa dalam Perjalanan Waktu: Dari Kerajaan Hindu-Buddh,
melalui Kartasura, Ke Yogyakarta Modern.”
• Retno Purwandari: Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta
Tema: “Mengungkap Arti Penting Nama bagi Masyarakat Jawa melalui Penamaan Batik
Semen Yogyakarta”

 

Selain pembicara tersebut, akan dihadirkan pula 8 pembicara dari penulis Call For Paper terpilih yang sebelumnya telah mengirimkan abstrak pada periode 12 Januari hingga 10 Februari 2020. Adapun simposium ini dapat dihadiri oleh masyarakat umum tanpa harus mengirimkaan paper terlebih dahulu. Tiket early bird yang dijual pada Jumat (14/) sejak pukul 00.00 hingga Senin (17/2) pukul 12.00 dengan skema khusus untuk tiket bundling selama dua hari sebesar Rp 250.000, kini telah terjual habis (sold out). Selanjutnya, tiket reguler akan dijual mulai Senin (17/2) pukul 13.00 hingga Selasa (10/3) pukul 08.00-sampai habis dengan ketentuan berikut:
– Pelajar, (Single Days, Hari 1 atau Hari 2) @Rp  150.000
– Pelajar (All Days, Hari 1 dan 2) @Rp  250.000
– Umum, (Single Day, Hari 1 atau Hari 2)  @Rp  300.000
– Umum, (All Days, Hari 1 dan 2)  @Rp  500.000

Pelajar adalah mahasiswa aktif (hingga jenjang S2) yang dibuktikan dengan kartu pelajar/mahasiswa yang masih berlaku. Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dibatalkan atau diubah. Data diri yang telah difinalisasi akan digunakan untuk penulisan tanda peserta dan sertifikat. Segala informasi terkait dengan agenda Simposium Internasioal ini adapat disimak melalui official website: symposium.kratonjogja.id.

 

PAMERAN KERATON YOGYAKARTA

 

Perkembangan motif di Yogyakarta justru tidak bersumber dari keraton. Setiap bangsawan membentuk pola kainnya sesuai dengan strata sosialnya guna membangun identitas. Fenomena ini lantas melahirkan pelbagai pola batik, yang justru banyak lahir dari Dalem-dalem Pangeran. Tidak hanya keraton, tetapi para pangeran yang mardika pada wilayah kekuasaannya turut memberi warna pada peradaban busana di Yogyakarta. Bahkan, sifat
busana yang begitu personal bagi pemakainya sehingga sukar untuk diwariskan. Dengan demikian, melalui busana makan cermin peradaban dari suatu pemerintahan dalam dikisahkan. Narasi inilah yang menjadi motor dalam kegiatan pameran Mangayubagya Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Masih dengan tema besar ‘Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta’ Pameran Keraton Yogyakarta tahun 2020 ini bertajuk “ABALAKUSWA”. Adapun terdapat beberapa sajian spesial pada Pameran “ABALAKUSWA” dengan perincian sebagai berikut:

 

1. Resepsi Pembukaan Pameran
Berdasarkan perhitungan Tahun Masehi, Sri Sultan Hamengku Buwono X genap bertakhta selama 31 tahun. Pada resepsi pembukaan pameran ini, akan disajikan gelaran Wayang Wong Golek Menak Lakon “Jayengrana Jumeneng Nata” persembahan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. Naskah pertunjukan pementasan ini berasal dari British Library dan telah diberikan kepada keraton tahun lalu. Pertunjukan akan dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2020, di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran. Pameran ini sendiri akan berlangsung selama satu bulan hingga Minggu (5/4).

 

2. Diskusi Ilmiah Rangkaian Pameran
Diskusi ilmiah tematik menjadi salah satu ciri dari setiap penyelenggaraan pameran di Keraton Yogyakarta. Melalui diskusi ilmiah, pengunjung tidak terbatas memperolah ilmu dari keterangan koleksi pada label, tetapi mendapat wacana yang lebih luas terkait dengan wastra dan busana. Di samping itu, terdapat kegiatan loka karya berbusana adat sebagai ruang praktis bagi para pengunjung untuk belajar berbusana adat.

 

3. Pertunjukan Seni
Guna menyemarakkan Tingalan Jumenengan Dalem yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, akan dipentaskan beberapa karya tari adiluhung dari Keraton Yogyakarta, diantaranya adalah Beksan Trunajaya (terdiri dari Beksan Lawung Ageng, Beksan Lawung Alit, dan Beksan Sekar Madura) pada acara Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem, Rabu (25/3) malam di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran (terbuka untuk umum) dan Wayang Wong Purwo pada penutupan pameran, Sabtu (4/4) malam di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran (terbuka untuk umum).

 

Segala update dan informasi terbaru terkait agenda dari Keraton Yogyakarta dapat juga disimak melalui media sosial resmi @kratonjogja atau instagram @kratonjogja.event.